Banyak kita yang suka menonton aksi manga atau anime Naruto Shippuden di rumah. Termasuk saya dan adik paling bungsu saya ( 3 tahun), dan biasanya saya menonton dengan dia setiap malam minggu, dengan 2-3 DVD yang membuat Ibu menjadi marah-marah kalau dipagi hari kami bangun kesiangan. (Sebelum saya pindah Kuliah di Jakarta). Tapi ada hal-hal yang dapat kita pelajari untuk Organisasi dari Naruto Shippuden, sebagai berikut :

Naruto Uzumaki pernah mencoba jalan sendiri. Ia tidak mau diatur oleh siapa pun. Tapi ilmu tanpa guru adalah percuma. Toh tetap saja ia harus patuh pada aturan sekolah ninjanya. Karena menjadi jonin tidak bisa instan, melainkan harus melalui proses.

Naruto adalah siluman rubah berekor sembilan yang belajar di sekolah ninja. Ia hobi makan ramen (mie). Ia ngebet dikenal dan diakui, makanya ia ngotot menjadi hokage, yaitu strata shinobi (ronin) paling tinggi yang diakui keberadaannya oleh semua kalangan. Salah satu jurus yang dipelajari Naruto adalah Bunshin no jutsun, jurus kloning, kepada Iruka, gurunya di sekolah ninja.

Di sekolah ninja, semua murid belum bisa disebut ninja. Baru calon. Untuk menjadi Genin (ninja tingkat bawah) saja demikian sulit, apalagi meraih posisi Jonin (ninja tingkat atas). Terbukti, beberapa kali Naruto mengikuti ujian jurus, ia tidak bisa mengklon dirinya dengan sempurna. Kadang yang muncul adalah seorang putri. Kadang fisik Naruto, tapi duplikatnya ini muncul dalam kondisi teler alias tidak siap tempur. Tidak heran, di kelas itu, Naruto meraih posisi paling buncit. Tapi tetap saja kepribadiannya yang sok tahu, banyak omong dan lagak, menyepelekan orang lain.

Saat musim ujian tiba, ia disatukan dalam sebuah tim bersama Sasuke dan Sakura. Sasuke adalah murid terpintar dalam kelas. Orangnya cool dan jaim. Sakura adalah murid sentimentil yang naksir berat kepada Sasuke. Dan Naruto naksir berat kepada Sakura. Ketiga jenis manusia yang sangat berbeda kepribadian ini disatukan dalam sebuah tim dengan tutor Kakashi Hatake.

Ujian tim tiba. Kakashi membawa dua bekal makan siang. Sedangkan anggota tim ada tiga orang. Artinya, ada satu anggota tim yang tidak akan bisa makan. Kemudian masing-masing berebut klentengan yang dipegang Kakashi sebagai syarat memperoleh bekal makan siang. Satu persatu anggota tim kalah. Kakashi komentar sinis, tidak ada satu pun yang lulus. Dua bekal makanan diberikan kepada Sasuke dan Sakura, di depan Naruto yang terikat karena berbuat curang: ingin mencuri bekal. Kemenangan mereka dapatkan justru di luar pertempuran setelah Sasuke dan Sakura membagi makan siangnya kepada Naruto.

Itulah ringkasan awal film animasi Naruto. Di balik kisah heroik semacam itu, banyak film menampilkan jagoan berasal dari etnis yang kalah atau terbuang, bisa juga siluman yang tidak diakui, atau golongan jin yang baik, tersimpan sebuah sistem perkaderan yang perlu dikaji lebih lanjut. Ya, sekolah ninja menyimpan banyak hal menarik tentang bagaimana nilai-nilai keninjaan tersimpan rapi dalam sistem perkaderan. Dalam artikel ini, aku ingin menafsir tentang segala simbol dalam animasi Naruto dengan dimensi organisasi perkaderan.

Menyimpan personalitas
Pertama, siluman rubah berekor 9. Apa yang lebih menarik perhatian kita saat mendengar kata ‘siluman rubah berekor 9’? Tentu jumlah ekornya yang berjumlah 9. Padahal biasanya kita melihat tubuh, bukan ekor, yang hanya bagian remeh dari tubuh.
Siluman punya kaitan erat dengan simbol keliaran, uncontroled, jejadian. Sebelum Naruto nyantri di sekolah berkepribadian yang liar, tidak bisa diatur, semaunya, merasa benar sendiri, arogan, one man show, dll. Dalam bahasa lain, ia adalah sebuah individu yang belum mengorganik, belum memasuki sebuah sistem organisasi.
Saat telah masuk ke sebuah sistem pun, perilaku personal biasanya masih tetap hadir menghiasi kerja organisasi.

Dalam kelas ninja, bahkan ketika sudah masuk dalam tim, Naruto masih suka usil. Tidak heran, menimpali omongan Naruto yang asal cuap dan pengen instan jadi jawara agar eksistensinya diakui, Kakashi (sang tutor) berucap, “Di dunia ini, orang yang paling rendah kemampuannya biasanya bicaranya paling keras.”

Dengan demikian, siluman rubah berekor 9 adalah sebuah pencitraan animasi tentang nafsu dan kehendak untuk menjadi dirinya sendiri tanpa peduli kepada yang lain. Ekor 9 yang lebih menarik perhatian kita, bukan wajah atau tubuh rubah, adalah ekspresi tentang perayaan individualitas tanpa respek terhadap masalah sosial.

Dalam kisah itu, Naruto tidak bisa mengaktualkan kembali energi silumannya karena telah dikunci oleh Hokage dan kuncian itu semakin kuat tatkala Naruto semakin mendalami jurus-jurus ninja di sekolah. Ekspresi personal itu kemudian hilang, lebur, anihilasi.

Dalam struktur perkaderan, anda tidak akan bisa menerima pelajaran ketika dalam diri anda masih tersimpan siluman atau keakuan. Apalagi ketika keakuan tersebut tidak mempunyai pola yang jelas. Ekor 9 adalah simbolisasi ngawurnya fokus ketika perhatian teralih pada sesuatu yang remeh.

Menyembunyikan keberadaan
Personalitas hanya diakui saat masih jadi kadet sekolah ninja. Setelah itu, ia harus melebur dalam sistem. Peraturan dasar ninja yang pertama adalah menyembunyikan keberadaan.

Lihatlah film-film tentang ninja. Mereka berpakaian gelap yang rapat dan berpenutup wajah. Ninja tanpa tutup wajah biasanya adalah tokoh elite atau Hogakenya. Kegagalan seorang ninja adalah ketika ia itu narsis. Ninja yang berpakaian ngejreng (kontras, mencolok), tampil siang hari di tengah keramaian sambil teriak “Hallo, here I am!” dan memakai parfum yang tercium ribuan kilometer, pastilah bukan ninja sejati. Bisa jadi ia hanya punya motor Kawasaki Ninja.
Mereka beraksi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Cukuplah orang lain mengetahui akibatnya saja, tanpa perlu mengenali siapa pelakunya. Itulah gerakan ninja. Cepat, tepat, efektif. Tanpa koar-koar. Apabila seorang ninja pamer diri dalam beraksi, bisa dipastikan ia bukan ninja. Mungkin hanya kumpulan gerombolan. Kita bisa lihat film era 80-an, “American Ninja” yang dibintangi Michael Dudikoff. Si jagoan neon ini hanya dikenali sebagai prajurit rendahan biasa.

Organisasi kader sejati selalu mempunyai nafas panjang dan tidak mudah terpancing. Saat mereka melakukan pembinaan diri, mereka tidak grasa-grusu dan pamer diri ke orang-orang. Diam dan kalem saja. Mereka tidak membuat orang lain sadar akan kegiatan ini. Contoh konkretnya ini bisa terlihat dalam pembangunan sebuah gedung di daerah mana pun. Saat mereka membangun, area dibatasi oleh pagar seng yang tinggi sehingga membuat orang luar tidak bisa melihat apa yang sedang dikerjakan di dalam. Khalayak ramai baru menyadari ketika bangunan itu sudah berdiri kokoh. Ketika bangunan itu sudah terlihat, orang-orang tetap saja tidak tahu apa bahan dasar bangunan tersebut.
Bergerak dalam tim

Ninja juga bergerak dengan tim, tidak main sendiri. Konsolidasi dalam tempat gelap, sembunyikan diri, serang musuh di saat mereka lengah, potong sel ketika serangan gagal, dan tetap sembunyikan diri meskipun kemenangan telah diraih. Ada saatnya nanti untuk [di]muncul[kan] . Itu pun belum tentu jagoannya.

Mereka menyadari bahwa kekurangan salah satu dari mereka akan tertutupi oleh rekan lain tanpa ada superioritas personal. Mereka taat perintah pimpinan. Saat berkumpul, mereka bisa adu wacana dengan dalil-dalil rasional. Tapi ketika beraksi, wacana terserap dalam tindakan. Inti kelulusan Naruto cs dalam ujian justru adalah karena kerjasama tim dan kerelaan berkorban, bukan karena kepiawaian personal.

Tim yang terbentuk terbagi dalam unit-unit kecil. Sering disebut sistem sel. Sistem ini dibentuk untuk memaksimalkan target. Ketika ada gangguan atau kegagalan, sel ini bisa dipotong sehingga tidak mengganggu sel lain.

Sistem ini dijaga oleh orang yang dianggap pimpinan atas. Dalam komik Naruto disebut sebagai Hokage. Sistem ini bisa dipimpin oleh perorangan (yang biasanya dipanggil ketua, don, fuhrer, imam), atau sekelompok orang (politbiro). Yang pasti, tanpa diketahui publik, ada sistem dalam gerakan perkaderan ini yang sengaja dibuka, dan ada pula sistem yang ditutup, hanya diketahui oleh ketua.

Sistem terbuka hanya untuk menarik perhatian calon member baru. Orang-orang melihatnya sebagai organisasi biasa. Mungkin Cuma sekadar kelompok diskusi, arisan, pengajian, atau lembaga kursus biasa. Orang-orang yang duduk di jabatan itu pun sekadar syarat administrasi saja. Suatu saat, bila diperlukan, bisa jadi yang anggota jadi ketua, yang sekretaris menjadi manajer dan lain-lain.

Karakter tutor
Naruto adalah murid paling bodoh di kelas, digabung dalam satu tim dengan Sasuke (murid terpintar yang cool, jaim), dan Sakura yang sangat memuja Sasuke. Bagi sebagian orang, ini bukan tim karena disparitas kemampuan dan keilmuan yang sangat jauh. Seharusnya, tim itu beranggotakan orang-orang yang punya keahlian yang relatif sama.

Bergabung dengan sesama ahli saja belum tentu klop, apalagi bila dengan orang yang berilmu paling rendah.
Justru itulah. Ini sistem ninja. Tidak penting siapa bergabung dengan siapa. Setiap orang yang sangat mungkin punya watak saling berlawanan mesti bisa berkomunikasi satu sama lain. Masalahnya tidak berhubungan sama sekali dengan kenyamanan dan selera, melainkan fokus pada tujuan. Misi harus berhasil dan pantang gagal. Karena kegagalan hanya meninggalkan bangkai.

Tugas mentor/tutor adalah merangkaikan seluruh perbedaan menjadi sebuah mozaik yang indah, sebuah irama merdu yang bisa bergerak bersama untuk sebuah kesuksesan misi, tanpa melepaskan individualitas seseorang.

Tentang Kakashi, sang mentor, tidak pernah cerita detil tentang misi yang harus dilakukan. Ia baru membukanya setelah misi usai, tentang apa dan mengapanya. Tugas murid hanya menjalankan perintah.

Namun ada hal yang sering dilupakan oleh banyak aktivis sistem sel seperti ini, bahwa jabatan mentor bukan sekadar masalah loyalitas melainkan juga ketrampilan dan keilmuan. Sebelum mentor itu diakui sebagai pimpinan tim, ia membuka diri untuk dikritik dan disanggah semua pandangannya. Inilah uji material dan nyali seorang tutor. Ketika ia tidak sanggup menjawab sanggahan, maka posisinya telah turun dan harus diganti dengan yang lain.

Dengan mengamati sekilas sistem tutorial ini, indoktrinasi yang rasional menjadi basis perkaderan. Tidak ada wilayah haram untuk ditanya atau digugat. Ketika wilayah wacana sudah selesai dan berlanjut ke wilayah aksi, semua anggota bergerak secara organik dalam sistem komando.

Bukan Avatar
Kisah Naruto tidak bicara heroisme privat dan keajaiban. Naruto hanyalah seorang murid sekolah ninja. Tidak ada yang istimewa dalam dirinya, kecuali bahwa ia telah mencerap dan menjalani sistem perkaderan. Ada unsur teleologis yang membuatnya akhirnya bisa menahan diri untuk memarkir keakuannya, hanya dalam dirinya saja.

Inilah yang membedakan kualitas nilai dalam kisah animasi Naruto dibandingkan dengan Avatar. Dalam animasi Avatar, Sang Messiah, memperoleh kedigjayaan secara langsung given, tanpa belajar. Organisasi yang dibuatnya tiada lain adalah gerombolan.

Avatar tidak pernah membangun sistem. Kalaupun ia berhasil membangun sebuah organisasi, ia hanya bergerak berdasarkan kharisma mistiknya. Ketika ia lenyap, maka bubar jualah organisasi tersebut.

Avatar juga tidak peduli dengan bagaimana bangunan sosial di sekelilingnya. Ia menghindari diri untuk konflik dengan kerajaan api. Padahal kelakuan kerajaan api jelas-jelas merusak. Dalam alam kasat mata, konflik dan perang adalah suatu kemestian yang mesti dihadapi. Tidak setiap orang bisa diajak diskusi dan bermain wacana. Dan tidak setiap penguasa zalim nan penindas mau menerima ocehan kita.

Perkaderan melalui sistem sel adalah sebuah pilihan rasional ketika nilai-nilai ideologis ingin dilanggengkan dalam sebuah perkaderan dengan anggota yang steril. Figur atau aikon awal organisasi hanyalah sebagai tukang yang mengerjakan bangunan awal organisasi ini. Selanjutnya, penghuni atau kader yang melestarikan dan mengembangkannya.

Terima Kasih,

Syukni Tumi Pengata, SH

* Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Hukum Bisnis Universitas Pancasila, Jakarta

** Ketua LKBH PERMAHI Padang (ex.)